Skip to content

Awas !! “ Wartawan Awu-awu“ Bergentayangan

20 Desember 2010

Aktualindonesia.wordpress.com, Surabaya.

Foto; Abdul Syukur, Pimpinan Tabloid Ringkas yg diduga pemilik MEDIA tanpa Surat Kabar

Dengan dikeluarkannya undang-undang no.40 tentang Pers, dunia jurnalistik semakin kritis dan menunjukkan eksistensinya sebagai control masyarakat dan banyak membantu memberikan berbagai informasi dalam pembenahan dan pengungkapan berbagai peritiwa yang diterbitkan melalui sentuhan sebuah karya penulisan yang di dasarkan pada pengumpulan fakta atau bukti temuan seorang insan Pers memberikan sesuatu yang bersifat membangun bagi negeri ini. Namun dengan adanya kebebasan pers bukan berarti tanpa adanya aturan-aturan yang di buat guna mencegah banyaknya penyimpangan dilapangan baik yang dilakukan insan pers itu sendiri, maupun terjadinya benturan di lapangan dengan berbagai nara sumber yang di temui guna mendapatkan bahan untuk pemberitaan yang ada.

Namun fakta dilapangan menunjukkan justru apa yang telah dilakukan serta dikeluarkannya berbagai perundang-undangan tentang Pers baik itu yang telah di rumuskan melalui Dewan Pers dan di sahkan oleh Pemerintah seakan kurang dapat memberikan kontrol dan perlindungan bagi para kulitinta ini dalam melakukan tugasnya, bahkan seringkalinya banyak terjadi laporan yang menimbulkan keresahan di berbagai instansi karena banyaknya media serta oknum-oknum wartawan yang tidak jelas status keberadaannya, serta cenderung hanya mencari-cari kesalahan pejabat yang ada, bahkan adapula yang berprofesi sebagai markus (makelar kasus.red) namun berkedok Pers dan tidak memiliki payung redaksional dan eksistensi medianyapun masih perlu di pertanyakan. Dan Media serta kartu Pers yang di kenakanpun seakan hanyalah sebagai simbol namun dalam praktek kenyataan dilapangan dalam menjalankan tugasnya sebagai Jurnalistik oknum-oknum wartawan ini tidak pernah melakukan penerbitan pemberitaan baik itu melalui media Cetak, majalah, tabloid maupun di media online. yang sesuai dengan nama media di pres card yang dikenakannya.

Salah satu media yang di duga Media awu-awu alias abal-abal adalah Tabloid Ringkas, dimana menurut keterangan yang di himpun ai guna mendapatkan informasi akan adanya media tersebut, di simpulkan bahwa Media Ringkas Sesungguhnya hanya terbit beberapa terbitan saja pada tahun 2008.Dan hingga kini media tersebut tidak pernah menerbitkan tabloidnya lagi, namun wartawannya masih saja banyak terlihat keluar masuk di beberapa instansi khususnya di kepolisian dengan alasan peliputan.

Peran Abdul Syukur selaku pimpinan redaksi media inipun sangatlah dominan dalam melakukan operasinya selalu bergaya ala premanisme, dan tidak jarang melakukan penekanan maupun intimidasi pada siapapun yang menghalangi permainannya ala MARKUS (Makelar Kasus), yang membekingi dalam setiap permasalahan yang didapatnya yang kesemuanya diduga ada kesepakatan-kesepakatan tertentu dalam melaksanakan kemauan kliennya.Tidak jarang dirinya mengaku pada setiap kliennya mengenal dan mempunyai banyak relasi di jajaran kepolisian di seluruh jawa timur hingga di Mabes Polri yang siap membantunya dalam setiap permasalahan yang di tanganinya, bahkan mengenal beberapa anggota BIN Pusat yang juga menjadi mitra kerjanya.

Arogansi syukur terbukti atas tindakan yang dilakukannya beberapa waktu lalu terhadap seorang wartawati salah satu media mingguan di surabaya dengan merampas paksa Pres Card Er, wartawati dari salah satu media mingguan di surabaya Wartanusa News, yang saat itu sedang melakukan investigasi serta wawancara dalam permasalahan kasus sengketa rumah di wilayah Kedungmanggu Surabaya, seperti pengakuan er pada ai. beberapa waktu lalu telah menimbulkan shock pada diri er selaku pencari berita yang sesungguhnya.

Menurut pengakuan er saat itu dirinya melakukan investigasi adanya sengketa rumah di daerah tersebut saat dirinya mendengarkan pengakuan kedua belah pihak yang bersengketa serta melakukan wawancara pada salah satu nara sumber yang di temuinya, tiba-tiba salah seorang yang mengaku dari media ringkas yang juga berada disitu bertanya dengan nada kasar seakan menyelidiki er, dengan nada keras menanyakan anda dari mana, dan kalau dari wartawan anda dari wartawan mana, seraya meminta pres card er dengan setengah memaksa dan salah seorangnya menyuruh rekannya untuk memotret pres card er saat itu juga, ungkap er.

Prilaku ala preman yang dilakukan wartawan tabloid ringkas ini sangatlah bertentangan dan merendahkan profesi jurnalistik. Sebagai sesama insan pers seharusnya hal ini tak seharusnya. Menanyakan dan merampas identitas tanpa mengatakan maksud dan tujuan yang jelas ini telah dapat di kategorikan sebagai tindak pidana yang dapat di kenakan pasal perampasan KUHP. Dan menurut keterangan er pada ai disimpulkan bahwa para oknum wartawan abal-abal alias bodrek tanpa surat kabar yang mengaku dari Media Tabloid ringkas yang merampas pres cardnya merasa terganggu dengan kedatangannya karena di duga mereka membekingi salah satu pihak yang berselisi saat itu. Namun kedatangan saya hanya untuk melakukan klarifikasi akan permasalahan yang saat itu terjadi dari kedua belah pihak yang bersengketa, ungkapnya.

Dan saat itu saya juga balik bertanya pada orang yang merampas pres card saya,anda juga dari mana kok main rampas id orang sembarang.dan oknum tersebut mengaku dari tabloid ringkas mas dan saya juga mengatakan kalau saya dari media dan saya tunjukkan koran terbitan saya, namun ketika saya meminta bukti terbitan korannya orang tersebut mengtakan bahwa koran saya belum terbit, dan saya memita walaupun anda punya koran terbitan dari media anda yang sudah lamapun nggak apa, jangan anda mengaku-ngaku wartawan tapi nggak punya koran tapi gayamu kayak preman saja,jelas er menerangkan kronologi kejadian saat itu pada ai.

menurut keterangan beberapa sumber di lapangan yang di temui ai, media ringkas memang dulu pernah ada namun tidak eksis sejak lama dan tidak pernah melakukan penerbitan tabloidnya bahkan media tersebut masih memiliki tanggungan hutang pembayaran hasil cetak tabloidnya pada salah satu percetakan di daerah sepanjang, milik halim yang diperkirakan sebesar 2,4 juta yang belum terbayar hingga kini, saat terakhir tabloid tersebut melakukan penerbitannya kira-kira pada tahun 2008 hingga saat ini.Dan pimpinan tabloid tersebut sebenarnya bukan dari kalangan pers beliau di duga bekerja di jasa pengawalan truk atau ekspedisi di pulau jawa.maklumlah bila anak buahnya berlaku begitu mas karena memang mereka tidak memiliki dasar-dasar khusus jurnalistik, lha wong anak buahnya saja asal comot tanpa diberi pembkalan khusus tentang jurnalistik. Makanya kerjanya ya gitu itu asal dapat dan sikat gaya preman, ungkap sumber yang namanya enggan di korankan.

Dan menurut sumber media ini juga dalam melakukan aksinya hanya berbekal surat tugas peliputan dan memakai surat-surat yang sifatnya memberi tekanan terhadap berbagai instansi yang ada dalam menyikapi segala temuan permasalahan dari beberapa wartawannya dan cenderung bermain-main dalam setiap temuan kasus serta berdalih membantu masyarakat agar memperoleh keadilan tanpa ada penulisan konkrit yang di tuangkan di tabloidnya dan tidak jarang menggunakan cara-cara premanisme dalam segala aksinya, ungkap sumber.

Hanya berbekal kartu Pers namun tanpa adanya kejelasan bukti tabloidnya sebagai apresiasi nyata karya tulisan dari berbagai liputan yang dilakukan media Ringkas tersebut, semakin memperjelas adanya dugaan bahwa oknum-oknum yang mengintimidasi er saat itulah adalah wartawan BODREX alias wartawan tanpa surat kabar dan tidak jelas keberadaannya dan eksistensinya di dunia jurnalistik. Serta banyak kalangan insan perspun sangat awam mendengar nama media tersebut.

Sikap yang di tunjukkan para wartawan Tabloid Ringkas dan abdul syukur yang mengaku sebagai pimpinan redaksi Tabloid tersebut jelas-jelas mengancam dan meresahkan para pencari berita lainnya dan memperburuk citra sebagai insan Pers yang sesungguhnya, yang telah mendapatkan pembekalan serta didukung kwalitas intelektual seorang jurnalistik yang sebenarnya.

Dan saat ditanya ai apakah er akan melaporkan prilaku perampasan yang di lakukan oknum wartawan Ringkas ini pada pihak kepolisian, lebih lanjut er mengatakan bahwa dirinya akan melaporkan hal ini dulu pada pimpinan redaksinya dan tindakan apa nantinya yang akan kami ambil semua saya serahkan pada pimpinan redaksi saya, karena saat ini pimpnan redaksi saya baru saya hubungi vi telphone namun nantilah akan saya jelaskan dulu pada pimpinan saya mas akan perlu tidaknya kita laporkan hal ini pada pihak kepolisian nantinya, ungkap er pada ai. (ns)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: