Skip to content

Artis Film PORNO WARGA Bringin Indah Sambikereb surabaya

5 April 2010

Beberapa waktu lalu warga surabaya telah di gegerkan akan beredarnya kasus film Porno SMPN 26 surabaya, yang sengaja di buat oleh sepasang muda-mudi. Diketahui artis pemeran pria dalam film tersebut bernama Ricardo,sedang pemeran wanita dalam film tersebut bernama des, putri dari KUKU SUNARKO dan SUNDARI salah seorang warga Jl.Beringin Indah kel.Beringin Kec.Sambikereb surabaya.

Kasus yang sebelumnya diduga pernah dilaporkan pada pihak kepolisian oleh kuku sunarko ayah des (pemeran wanita.red) dan belum sempat diekspos media manapun ini, pernah di tutup rapat oleh pihak kepolisian dan di SP3 kan. Hingga akhirnya seorang wartawan dari media mingguan bali ar, yang menggali dengan melakukan investigasi dari adanya isu tersebut mendapatkan beberapa temuan bukti dari hasil investigasinya tersebut, hingga telah mendapatkan jawaban klarifikasi dari ayah pemeran film tersebut yakni kuku sunarko, yang mengatakan bahwa memang benar kasus tersebut telah di hentikan oleh pihak kepolisian atas bantuan kawan kuku yang berdinas di polda jatim hingga di SP3 kan. bahkan menurut keterangan ar pada ai, saat dirinya melakukan wawancara dengan kuku, kuku sunarko mencoba menyuap dirinya (ar.red) yang telah memiliki bukti akan kasus anaknya dengan mengatakan berapa anda minta agar kasus anak saya ini jangan di beritakan, saya tahu bagaimana cara menyelesaikan urusan dengan orang-orang media karena saya juga (kuku sunarko) dulu pernah menjadi penasehat hukum salah satu media di surabaya, ungkap ar menirukan perkataan kuku pada ai.

Lebih lanjut ar menjelaskan bahwa dia (kuku sunarko.red) mengakui bahwa dirinya juga telah memberikan sesuatu pada pihak kepolisian agar kasus anaknya ini di tutup rapat, dan pemeran pria (ricardo.terlapor, red) dalam film tersebut, juga telah disuruhnya menandatangani surat pengakuan/pernyataan bersedia mengakui kalau wanita yang berperan dalam film tersebut bukanlah Desi Arika Putri, anak kuku Sunarko.Dan diakui kuku surat pernyataan pengingkaran itupun akhirnya di tandatangani ricardo dan masalah inipun sudah di tutup hingga dibebaskannya ricardo, sebelum kasus penangkapan ke tiga wartawan di Rm. Belut Jl.HR.Muhammad pada jumat (16/10/09) lalu mencuat, dan agar semua pengakuannya (kuku.red) tak terekspos media, kuku sunarko melakukan berbagai cara dengan mengundang makan saya dengan menelphone berulang-ulang agar saya, ramud mau memenuhi undangan makannya yang telah ia atur (kuku sunarko.red) dan kondisikan sendiri tempat pertemuan yang ternyata untuk menjebak saya, hingga sebelum saya duduk di kursi Rumah makan tersebut, tiba-tiba saat kuku baru datang mengatakan bahwa dirinya dari Atm dan mengatakan ada sedikit uang hadiah guna membantu saya dan teman-teman jangan dilihat nilainya mas, hanya dua juta rupiah nanti sisanya akan saya kirim lewat BG, hal ini kuku sendiri yang mengatakan tanpa adanya permintaan dari saya. bahkan saya menanyakan ini uang apa pak?, kan bapak sendiri yang bilang saat pertemuan kemarin malam bahwa kita tidak ada kesepakatan maupun dil-dil apapun, saya di paksa kuku memasukkan uang tersebut dan kuku tiba-tiba langsung pergi dan saya tidak tahu kalau saat itu saya ternyata di jebak dengan di undang makan,kejadiannya begitu singkat mas, karena pada pertemuan tanggal (15/10/09) di rumah makan bebek goreng bang arif tawaran kuku sempat saya tolak, dan mengenai pemberitaan di berbagai media yang katanya saya meminta 60 juta pada kuku itu hanya karangan kuku sendiri. Jadi kasus saya ini lebih banyak mengarah pada rekayasa pada penangkapan saya agar kasus 86 an kuku sunarko tidak terbongkar seperti yang diakuinya pada saya, hingga dengan berbagai cara apapun kuku bersama-sama pihak polres utara berupaya untuk melibas saya. Dan saya yang akan di suap kuku di kriminalisasikan menjadi kasus pemerasan oleh pihak kepolisian padahal pemberian uang senilai 2.000.000 tersebut semua inisiatif kuku sendiri yang bersinetron dengan kepolisian, dimana sih mas ada maling mau ngaku apa lagi maling-malingnya orang kaya seperti kuku yang di bantu pihak aparat penegak hukum. Dan seharusnya pihak kepolisian dalam melakukan penangkapan untuk menindak lanjuti laporan masyarakat harus berpedoman pada asas praduga tak bersalah, karena yang berhak menentukan saya bersalah atau tidaknya adalah hakim bukan langsung saya di hakimi digebukin dan di vonis melakukan tindak pemerasan, tanpa melihat sisi kebenaran kronologi yang terjadi.

sayapun saat di tangkap di gebukin mas, pihak polisi tidak menunjukkan identitas mereka tiba-tiba brak-bruk langsung saya di paksa membuka amplop tersebut dan menghitung isi uang didalam amplop tersebut. karena saat kuku menyuruh saya menghitung amplop tersebut, saya tidak menghitungnya, dan saya tidak tahu brapa isi uang tersebut, kan sebelumnya kuku sendiri yang mengatakan kalau uang amplop tersebut berisi uang dua juta mas,ungkap ar.

Lebih lanjut ar mengatakan, Lha wong hukum di indonesia ini yang salah bisa jadi benar dan yang benar bisa jadi salah, asal ada uang jalanpun lancar kebenaran di negeri ini ada tarifnya mas, kalau mau fear kita bikin jumpa pers di semua stasiun televisi terutama di tvone, hadirkan semua orang yang terkait dalam kasus saya ini baik kuku sunarko, ricardo, desi arika putri (anak kuku.red), penyidik, kasat reskrim polres utara, feri kasi trantib kec. sambikereb, eko dan toni (anak buah feri.red), Ramud, kawit, dan oknum polda teman kuku sunarko, ayo kita buka-bukaan jangan hanya jumpa pers Cuma di hadiri sepihak seperti kemarin kasat reskrim polres dan kuku melakukan jumpa pers dengan media televisi yang cenderung membentuk image memojokkan saya, sementara media televisi tidak pernah melakukan klarifikasi pada saya saat akan menerbitkan pemberitaan tentang kasus ini, kan ini sudah tidak fear. Dan sesama jurnalistikpun kita sama-sama tahu lha, kalau kita akan memberitakan seseorang tanpa melakukan klarifikasi pada kedua belah pihak/nara sumber, sudah jelas-jelas melanggar kode etik jurnalistik, karena wartawan tidak didik dalam menulis sebuah pemberitaan hanya berdasarkan “katanya” saja mas.
Apalagi yang akan diberitakan memiliki profesi yang sama. saya bicara ini lepas dari saya benar atau salah, dalam hal ini mas, yang jelas saya menghimbau bagi teman-teman sesama pers dalam memberitakan sebuah kasus ayolah kita gunakan norma-norma etika pers yang berkode etik, jangan asal muat tanpa melakukan klarifikasi pada pihak atau sumber yang akan di beritakan bila semua wartawan melakukan hal demikian pasti orang yang di beritakanpun akan menerima karena telah di klarifikasi.Lha wong saya aja yang melakukan klarifikasi untuk mendapatkan jawaban dari nara sumber sudah di kriminalisasikan melakukan tindak pemerasan, apa lagi bila kita tidak melakukan klarifikasi mas. Apa lagi lawannya gajah, maka habislah kita, ungkap ar.

Saya tidak menyalahkan teman-teman pers yang memberitakan saya namun cenderung membentuk image menjatuhkan saya walaupun tanpa mengklarifikasi saya, ya kita sama-sama tahulah mas bila yang bermasalah memiliki gula yang banyak tentunya saat jumpa pers, mereka-mereka yang telah di kondisikanpun pasti ada permen nyalah alias terkondisikan, ya mungkin saja ini kan dugaan saya, yang namanya dugaan kan belum pasti. Yang jelas, silahkan saja teman-teman memberitakan kasus saya, namun ikutilah etika jurnalistik yang ada dan jangan mewawancarai nara sumber hanya sepihak saja, sekali lagi saya tidak sakit hati kok. toh mereka juga teman-teman saya dan saya yakin mereka pernah melakukan liputan bersama-sama saya.

Dan dalam kasus saya inipun seakan banyak sekali rekayasa, demi melindungi nama baik dan boroknya seseorang seperti kuku, dapat mensetting semua dengan kekayaannya. ungkap ar pada ai.

Lebih jauh ar, melanjutkan kronologi hasil wawancaranya dengan kuku sunarko, Adapun surat pernyataan yang di buat pihak kepolisian atas permintaan kukuh sunarko agar ricardo mau mengakui “ bahwa wanita yang dia perkosa dalam film tersebut bukan desi arika putri anak kuku sunarko”.Dan ricardopun akhirnya bersedia dan di bebaskan, hingga akhirnya terkuaklah semua misteri yang selama ini di tutup pihak kepolisian dengan meng SP3 kan kasus pencabulan anak di bawah umur ini, dengan tertangkapnya tiga wartawan ar, wit, ramut. hingga menghebohkan kota pahlawan yang tertidur dan ternyenyak bahwa kasus ini sebelumnya pernah di proses pihak kepolisian surabaya utara namun di tutup rapat, jelas ar.

Namun penangkapan wartawan yang di duga banyak terjadi unsur rekayasa yang telah di atur oleh kuku sunarko agar kasus damai ditempat alias 86 annya dengan pihak kepolisian, yang telah di akuinya saat di wawancara oleh ar, tidak mencuat di khalayak publik, akhirnya dengan berbagai cara kuku mencoba melibas wartawan-wartawan ini dengan cara mengundang pada pertemuan pertama kamis (15/10/09) di rumah makan bebek goreng bang arif dengan di mediatori Feri Sakti Lubis Kasi Trantib Kec.Sambikereb. dan kuku menghubungi ar kembali berulang-ulang, dan akhirnya ar pun mau menemui kuku atas paksaan ramud pada hari kedua saat ar tidak mau menerima tawaran kuku sunarko agar beritanya jangan di terbitkan alias akan di suap, dan akhirnya kuku berhasil menjebak dengan cara mengundang makan dan memberikan hadiah uang 2.000.000 yang diberikan langsung pada ar, wit dan mut sebagai hadiah pada (16/10/09) di rumah makan Belut Jl. Hr. Muhammad Surabaya. Yang akhirnya menyebabkan ketiga wartawan ini di keler di polresta Surabaya Utara dengan tuduhan Pemerasan dengan pelanggaran pasal 369 KUHP.
Dari apa yang telah dilakukan kuku sunarko dengan mengkriminalisasikan wartawan dengan menjungkir balikkan fakta yang sesungguhnya terjadi ini, bagaimana nantinya bila hal ini terjadi pada wartawan-wartawan lain apabila di undang makan dan diberikan sekedar uang bensin maka sudah dianggap pemerasan dan oleh pihak kepolisian langsung di kenakan pasal-pasal KUHP tanpa kasus-kasus yang menimpa wartawan di limpahkan pada Dewan Pers terlebih dahulu , agar dewan pers dapat memberikan sanksi-sanksi sesuai Perundang-undangan dan aturan jurnalistik yang ada.Bukannya langsung di kenakan pasal-pasal Pidana, karena setiap lembaga atau institusi memiliki peraturan-peraturan yang telah di sahkan Pemerintah bahkan president dan Perundang-undangan itupun dilindungi dan sah menurut hukum.Lalu bagaimana dengan pihak aparat kepolisian yang seringkali melakukan pemukulan dan penembakan pada orang-orang yang setelah dianiaya namun ternyata salah tangkap.Apakah mereka di kenakan sanksi pidana penganiayaan? Jawabanya pasti tidak. Karena kepolisian sendiri memiliki aturan-aturan tersendiri.pastilah kasus-kasus yang dilakukan aparat penegak hukum tersebut dikembalikan lagi pada peraturan yang berlaku pada institusi mereka.Begitu juga PERS bila semua wartawan yang belum tentu kebenarannya dalam melakukan kesalahan langsung di kenakan sanksi pada rana KUHP maka pertanyaannya. Untuk apa undang-undang PERS dibuat?.Sangatlah dilema UU tentang Pers telah dibuat, namun pihak kepolisian selalu menjerat Pers dengan pasal-pasal KUHP,padahal bila yang berperakara pihak kepolisian walaupun telah menghilangkan nyawa orang lain yang belum tentu bersalah paling hanya dikenakan sanksi kode etik kepolisian dengan hukuman kurungan paling lama 21 hari sedangkan dengan pihak pers kepolisian langsung menerapkan UU KUHP.
Sangatlah ironis memang, Sedangkan bila yang melakukan kesalahan adalah pihak aparat penegak hukum sendiri jarang sekali dijerat pasal-pasal KUHP.

Dimana letak keadilan dan dimana penegakkan keadilan yang seringkali di gembar-gemborkan oleh Pemimpin bangsa ini. Sedangkan aparat-aparat penegak hukumnyapun seringkali berlaku sebagai HUKUM dan PENGHUKUM?.Apakah kepolisian kebal hukum dalam hal ini hingga dia bisa perlakukan seseorang seenaknya sendiri tanpa mau melihat rambu-rambu hukum yang telah ada? Bila memang UU tentang PERS tidak pernah di gunakan untuk apa pemerintah dalam hal ini President mengesahkan UU tersebut?
Kiranya majelis hakim dalam memberikan putusan atas perkara kasus dugaan pemerasan yang di tuduhkan pada ar, wartawan koran mingguan bali biro surabaya, yang saat ini telah berjalan kemeja hijau dengan Register Perkara Nomor : PDM-64/TG.PRK/01/2010 yang seakan dipaksakan dan penuh rekayasa ini, dapat memberikan putusan yang seadil-adilnya dan dapat membuka tabir berbagai rekayasa yang ada dalam persidangan yang dengan memberikan putusan sebijak dan seadil-adilnya. (nd)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: