Skip to content

KH Said Aqil Siradj, akhirnya resmi terpilih sebagai Ketua Umum PBNU 2010 – 2015

26 Maret 2010

Makassar – Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-32 akhirnya resmi memilih KH Said Aqil Siradj sebagai Ketua Umum PBNU 2010-2015. Masalah pascamuktamar serta persoalan Khittah NU menjadi pekerjaan rumah yang mendesak dan siap menghadang KH Said Aqil Siradj dan timnya.

Dalam Muktamar Ke-32 NU kyai asal Palimanan Cirebon ini memperoleh suara sebesar 294, dan secara resmi menggantikan ketua umum PBNU KH Hasyim Muzadi.

Saat ditanya akan dibawa kearah mana NU nantinya, lebih lanjut dirinya mengatakan “Saya ingin membersihkan ulama dari tarik menarik kepentingan politik praktis. Itu kita ingin jadikan NU bersih dari kepentingan politik,” tegasnya ditemui usai pemilihan ketua umum PBNU di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Sabtu (27/3).

Refleksi Kyai Said memang cukup kontekstual. Banyak kalangan, NU di bawah kendali KH Hasyim Muzadi yang memiliki plus dan minus, baik langsung maupun tak langsung, telah membawa NU dalam pusaran politik praktis selama 10 tahun terakhir.

Memang tidaklah mudah menarik garis pembatas tegas hubungan antara NU dengan politik praktis, karena tidak bisa dipungkiri kader NU juga tersebar di hampir semua partai politik. NU di bawah kepemimpinan Kyai Said harus bisa merumuskan relasi NU dengan partai politik, khususnya partai politik berbasis nahdlyin.

Selain itu, Kyai Said juga ingin berbeda dengan pendahulunya terkait relasi NU dengan pemerintah. Bila era KH Hasyim Muzadi institusi NU cenderung berhadap-hadapan dengan pemerintah, NU era Kyai Said tampaknya akan berbalik arah.

“NU harus menjadi mitra pemerintah, bukan mitra politik. Pemerintahnya dan presidennya siappaun, selama itu programnya untuk memajukan rakyat, NU harus ikut andil disitu. Kritis jika memang pemerintah menyimpang,” tambahnya.

Sementara pemerhati NU dari Universitas Utrecht Martin van Buirnessen menegaskan tradisi NU dari awal kelahirannya memang dekat dengan pemerintahan. Ia menilai jarang NU berkonflik dengan pemerintah. “Bila pun berkonflik karena faktor zaman karena momentum tertentu seperti UU Perkawinan,” ujarnya ditemui di arena Muktamar NU.

Terkait pelaksanaan muktamar, pemerhati NU yang tak pernah absen dalam menghadiri muktamar ini menilai peluang perpecahan di tubuh organisasi itu pascamuktamar pada akhirnya tidak terwujud. “Orang menemukan cara damai untuk menyelesaikannya,” ujarnya.

Pernyataan Martin terkait dengan ancaman sejumlah kyai sepuh yang mengancam keluar dari NU jika KH Hasyim Muzadi terpilih menjadi rais aam NU.

Sementara Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima) Ray Rangkuti menilai terjadi gesekan politik di arena muktamar NU tidak terlepas dari basis politik nasional yang mempengaruhinya, baik dalam pemilihan rais syuriyah maupun Ketua Umum PBNU. “Kubu-kubunya merupakan pembedahan dari kubu-kubu politik di pansus Century kemarin,” ujarnya ketika ditemui di arena muktamar.

Menurut dia, suasana politis di arena muktamar NU karena terdapat dorongan dari luar serta ditambahnya kelemahan internal dalam menyikapi persoalan internal. “Memang hal ini menjadi pekerjaan utama ketua PBNU yang baru,” ujarnya.

Terpilihnya KH Said Aqil Siradj sebagai Ketua Umum PBNU melalui proses dinamika yang tidak sederhana jelas mempengaruhi dalam proses perjalanan lima tahun ke depan. Apalagi dukungan para politisi nahdliyin di belakang KH Said Aqil Siradj jangan sampai kemudian menyandera NU di bawah kendali Kyai Said. Sebagaimana dimaklumi, para politisi PKB, Partai Golkar, dan Partai Demokrat berada di barisan KH Said Aqil Siradj. (iC)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: